Sabtu, 31 Juli 2010
Tsunami CAP (Proyek Rekonstruksi Pasca Gempa di Aceh) PDF Cetak E-mail

Tsunami CAPPendekatan dalam Tsunami CAP digunakan untuk mengatasi isu-isu yang kompleks dalam proses pembangunan kembali pasca terjadinya tsunami Aceh pada tahun 2005 - 2006. Tujuan dari Tsunami CAP adalah mengembangkan metodologi CAP khususnya tentang Tsunami dengan mengimplementasikan program sesuai prioritas proyek, membentuk dan melatih Tim CAP agar dapat mengembangkan lokakarya CAP di wilayah lain yang mengalami kerusakan, serta merintis program pembangunan 10.000 rumah yang menjadi proyek rekonstruksi oleh KfW. Fokus kegiatan Tsunami CAP adalah rekonstruksi perumahan dan perencanaan desa.

Dalam perkembangannya telah terbentuk Tim CAP yang menjadi sebuah LSM independen. Nilai lebih dari Tsunami CAP adalah adanya hubungan langsung antara Tim CAP dan lembaga donor, meski hal ini menimbulkan persoalan baru terkait dengan perbedaan mandat yang diberikan. Konsistensi keikutsertaan staf selama proses CAP, dari lokakarya hingga pelaksanaan program adalah faktor kunci yang perlu diperhatikan.

Pilot workshop
Tsunami CAP dilaksanakan di tiga lokasi berdasarkan gambaran terhadap keragaman kondisi lapangan dan ketersediaan informasi yang diperoleh. Keragaman tersebut menjadi tantangan untuk mengembangkan dan menguji metode Tsunami CAP sebagai langkah awal untuk mengimplementasikan CAP di seluruh wilayah Banda Aceh secara efektif.



Elemen utama pelaksanaan Tsunami CAP adalah membuat model kawasan yang harus ditangani dengan mengakomodasi beberapa tujuan, yaitu :
a.  memfasilitasi pemahaman dan gambaran umum terhadap kondisi masing-masing desa.
b.  mereka ulang elemen fisik desa seperti : perumahan, jalan, fasilitas umum, serta area yang mengalami kerusakan berdasarkan identifikasi masyarakat. Hal ini dapat dilakukan melalui pemetaan GIS.
c.  mengarahkan pelaksanaan lokakarya.

Pelaksanaan lokakarya difokuskan pada pemberdayaan masyarakat dan pihak-pihak lain untuk menginventarisasi kebutuhan rekonstruksi, adanya kesepakatan dalam pemilihan strategi dan prioritas pembangunan, dan menentukan implementasi program perumahan sebagai katalis program rekonstruksi bencana. Penentuan prioritas pembangunan didasarkan oleh inisiatif masyarakat, sedangkan peran tenaga ahli terbatas pada pendampingan masyarakat.

Pembangunan perumahan merupakan prioritas utama bagi korban bencana tsunami. Desain bangunan dirumuskan melalui upaya kemitraan antara masyarakat dan arsitek. Gambaran terhadap kondisi keluarga dan luas lantai rumah merupakan pertimbangan utama masyarakat dalam rekonstruksi, sedangkan arsitek menekankan pada aspek keamanan dan perlindungan terhadap bahaya banjir.